NASIHAT IMAM AL-GHAZALI : “Sepuluh amaliah yang wajib dijaga”
Ketahuilah,
seorang hamba wajib menjaga amalnya dari sepuluh perkara, yakni:
riya’; kemunafikan; kerancuan; pamrih; menyakiti orang lain;
melakukan hal yang dapat menimbulkan penyesalan; ujub (bangga pada
diri sendiri); menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat
mendatangkan kerugian (baik untuk orang lain maupun diri sendiri);
bermalas-malasan dan merasa takut dikecam orang lain.
Dalam
hal ini guru saya mengupayakan tandingannya antara lain: Untuk
melawan kemunafikan hendaklah ikhlas dalam beramal.
Lawan dari riya’ adalah ikhlas demi memperoleh
pahala-Nya. Lawan dari kerancuan beramal hendaklah dengan
cara bertakwa kepada Allah (artinya benar-benar melaksanakan
perintah dan meninggalkan dilarang-redaksi). Lawan dari
pamrih adalah dengan cara menyerahkan segala amaliah kepada
Allah. Lawan dari perbuatan menyakiti orang lain adalah
dengan cara memperbaiki kelakuan yang sudah lampau. Lawan dari
melakukan hal yang dapat menimbulkan penyesalan adalah dengan
cara menguatkan jiwa. Lawan dari ujub (bangga pada diri sendiri)
adalah dengan sadar sepenuhnya pada pemberian Tuhan. Lawan dari
perbuatan yang dapat mendatangkan kerugian (baik untuk
orang lain maupun diri sendiri) adalah dengan cara selalu
menanamkan kebajikan. Lawan dari bermalas-malasan
adalah dengan menghargai taufiq (pertolongan) Allah SWT. Dan
lawan dari merasa takut dikecam orang lain adalah
dengan menumbuhkan rasa takut kepada-Nya.
Kemudian
ketahuilah, perbuatan nifaq (munafiq) akan meruntuhkan amal
perbuatan. Sedangkan riya’ menjadikan amaliah akan
ditolak-Nya. Mengharapkan pamrih dan menyakiti orang lain akan
menggugurkan kejujuran dan menghilangkan berlipat gandanya pahala
amaliah. Sedangkan penyesalan akan menggugurkan seluruh amal
perbuatan. Rasa ujub akan menghilangkan upaya meningkatkan amal
perbuatan. Merasa rugi dan bermalas-malasan akan menjatuhkan atau
mengurangi amal perbuatan. Untuk itu anda wajib menghilangkan
berbagai kendala yang menakutkan dan membahayakan tersebut.
Sesungguhnya taufiq hanyalah berasal dari Allah.
(dinukil
dan di-edit dari terjemahan RAUDHATUT-THALIBIN WA UMDAHAS-SALIKIN
karangan AS-SYAIKH AL-IMAM ABU HAMID BIN MUHAMMAD AL GHAZALI rhml)
Bagansiapiapi,
9 Safar 1433 H / 4 Januari 2012
KH.
BACHTIAR AHMAD
Diposkan oleh KH.BACHTIAR
AHMAD di 22:48







0 komentar:
Posting Komentar